
Keadaan PAUD yang kudatangi tadi mungkin tidak berbeda dengan PAUD-PAUD yang lain. Khususnya PAUD-PAUD yang diadakan oleh swasembada RW setempat dan bertempat di balai RW. Sarana dan prasarananya sangat minim sekali, demikian halnya tenaga pengajarnya. Bahkan bisa jadi bahan untuk pengajaran juga sangat minimalis. Sebagaimana bahan untuk belajar mewarnai yang kulihattadi pagi. Tapi aku salut dengan ibu-ibu pengajarnya, mungkin gaji yang mereka tidak seberapa, tapi mereka mau bersusah payah menularkan ilmu untuk anak-anak itu. Meskipun yang sangat disayangkan banyak metode pengajaran atau paling tidak cara menghadapi anak yang aku rasa kurang pas untuk diterapkan tadi. Ibu-ibu pengantar atau para baby sitter juga terlalu banyak ikut campur di kelas. Bahkan ketika anak yang mereka antar sebenarnya sudah bisa dilepaskan, tetap saja mereka mendekati mereka serta membantu anak-anak itu mengerjakan tugas yang diberikan. Bahkan sebagian ibu-ibu itu menyuapi anak-anak mereka ketika waktu belajar (waktu makan sudah habis). Para pengajar sudah berulangkali mengingatkan, namun tetap saja berulang terus dan terus. Aku tidak habis pikir... sudah mahal-mahal mereka membayar untuk sekolah anak mereka, tapi tetap saja mereka tidak mempercayakannya pada sekolah atau pengajar. Mereka masih saja ikut campur dalam mengerjakan tugas. Sebenarnya siapa sih yang sekolah?? Apa mereka malu dengan ibu-ibu yang lain kalo anak mereka jelek hasil tugasnya?? ckckck.... Terkadang keinginan orang tua memang terlalu berlebihan, apalagi ketika anak masih kecil dan belum mampu menyampaikan keinginan mereka. Sebagaimana kita yang sudah dewasa ini, kebebasan tentu terus menjadi keinginan yang didambakan, apalgi anak-anak itu??? toh dalam kebebasan bukan berarti mereka tidak belajar kan?? Tuhan telah menciptakan manusia sedemikian lengkapnya, tentu agar memudahkan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan, demikian halnya anak-anak, tentu dengan pengalaman, mereka akan belajar menghadapi semua rintangan yang ada. Ketika mereka jatuh... itu sebuah pengalaman... ketika mereka merasa disakiti itu juga sebuah pembelajaran...dari sana mereka akan belajar bagaimana untuk tidak jatuh lagi dan tidak sakit lagi. Semakin anak miskin akan pengalaman, semakin sulit Ia menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan sebenarnya dan cenderung mudah menjadi rapuh ketika berhadapan dengan dunia yang sebenarnya ini.
Mungkin aku berkaca pada sesuatu yang kualami. Tapi aku tidak terlalu banyak tahu akan itu, karena mungkin aku belum menyadarinya. Namun yang kutahu bahwa aku sering merasa tidak mampu ketika cobaan itu datang.
No comments:
Post a Comment