Wednesday, March 31, 2010

just a reason...


hariku gelap...siangku penat...malamku pun tercekat
Tuhan dimanakah cahaya itu
dimanakah lentera itu
perjalananku kian tercerabut sendu
mengalun membisu
serempak tapi tak sama
beriringan namun tak bersama
sendaku pilu, tangisku kelu
mengapa dunia serasa membisu
pergi dan lari menjauhiku

terseok aku dalam kalbu
teronggok aku dalam ragaku
jiwa ini bertalu
seraya memukul angin yang terus berlalu
seperempat bukan setitik
setalu bukan sebelanga
cerita tak berujung
kapankah kau akan sampai di sana...

Monday, March 29, 2010

Temanku yang lucu...


Entah kenapa akhirnya kami dekat... sepertinya karena sebuah tugas kelompok 2 orang dari salah satu dosen kami. Dari sana akhirnya kami banyak bercerita hingga suatu hari aku bertandang sekaligus menginap di rumahnya. Sama seperti ketika aku menjalin persahabatan dengan teman-temanku yang lain aku selalu banyak menceritakan segala keluh kesahku tanpa menunggu waktu lama, dan sampai akhirnya sudah habis semua kuceritakan pada mereka. Biasanya saat itu kami akan begitu dekat. Namun yang aku selalu khawatir ketika memulai pertemanan adalah ketika tabiat burukku akan muncul kembali. Yach...tabiat yang entah kenapa selalu menemani hari-hari pertemananku. Entah kenapa pertemananku selalu berakhir dengan kurang bahagia. Dan biasanya aku akan sangat jauh dan canggung dengan orang yang sebelumnya sangat dekat denganku. Kenapa ya?? Apakah ini karena sifat gampang bosan yang aku miliki?? habis manis sepah dibuang... mungkin begitu tepatnya kalimat guna menggambarkan kejahatanku dalam membina hubungan pertemanan. Astaghfirullah... Aku tidak berniat seperti itu, tetapi terkadang begitulah rupanya cerita pertemananku selalu berulang. Aku akan dekat dengan yang baru dan melupakan yang lama. Dan biasanya aku menjauhi teman lamaku karena rasa benci atau tidak suka yang timbul karena suatu hal...

Tapi teman kuliah yang kini dekat denganku ini lain, dari awal dia telah menegaskan padaku, bahwa dia bukan tipe orang yang melupakan teman lama, dia akan selalu mencoba mempertahankan pertemanan dengan semua temannya, mulai dari masa kecil hingga sekarang. Bahkan dia berkata bahwa dia benci sekali jika melihat teman lamanya berubah menjadi sok tidak kenal ketika bertemu lagi dengannya. Oh my God, akankah aku menjadi seseorang yang dibencinya itu?? Akankah aku justru berubah menjadi musuh baginya?? Ya Allah jgn biarkan aku menjadi tidak menyukai berteman dengannya.. Aku ingin berubah, paling tidak mulai pertemanan yang saat ini. Aku tidak ingin berbuat salah lagi, apalagi kepada teman yang tulus berbagi denganku. Biarkanlah dia menjadi petunjuk dariMu untukku agar aku tidak berbuat salah lagi. Ijinkan dia tidak menjadi sepah yang akhirnya kubuang setelah kuhisap manisnya. Amin... Jagalah dia...

kesalahan yang terus berulang


Sudah hampir 24 tahun aku hidup di dunia ini, namun entah kenapa kesalahan-kesalahan yang sama terus menerus berulang. Bagai kelinci yang jatuh ke lubang yang sama berulangkali, hhihi... Selalu dan selalu bisa mengerjakan saat mendekati deadline. Entah sugesti atau memang sebatas itu kemampuanku, bahwa aku selalu sulit mendapatkan ide jawaban di saat-saat jauh dari deadline. Entah kenapa aku tidak bisa memfokuskan diriku jika ancaman "deadline" itu tidak berdengung-dengung di kepalaku, huh... Padahal kalo dibilang rajin, lumayanlah aku ini. At least selalu bangun pagi, kamar selalu rapi, selalu mempersiapkan apa yang harus aku bawa, dsb. Namun entah kenapa untuk masalah yang satu itu aku tidak bisa melakukan yang lebih baik lagi. Meskipun tidak selalu nilaiku buruk karena mengerjakan tugas diburu-buru deadline, tapi terkadang ingin lagi aku seperti ketika masih duduk di SD atau SMA yang biasanya kita masih rajin-rajinnya mengerjakan PR, hehe... Apa karena aku jauh dari orang tua, sehingga tidak ada pengawasan?? Wah berarti aku belum dewasa dunk?? Atau bisa dibilang perkembangan moralku masih prakonvesional kalau kata Kohlberg?? haha... GawAt!! Mungkin benar jika kita, yang sudah cukup tua ini, tidak sepatutnya merasa telah dewasa, karena bagaimanapun dorongan untuk berperilaku seperti anak-anak itu selalu akan muncul dan muncul lagi. Yang membedakan hanya, ketika anak-anak tidak bisa menyembunyikannya, kita yang dewasa ini selalu berhasil berpura-pura tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya sungguh kekanak-kanakan. ckckck... Dimanapun dan kapanpun manusia memang akan meloloskan hasrat untuk bertahan hidup yang berkembang menjadi hasrat untuk mencari kepuasan hidup. hihi...
Tidak bisa dibayangkan jika Tuhan tidak menyisipkan perasaan empati dan simpati sebagai kerakter manusia, pastilah dunia akan penuh dengan keserakahan dan kebencian, naudzubillah...
Sekali lagi ya Allah, aku bersyukur atas banyak hal yang belum kusadari telah datang pada kami...

Sunday, March 28, 2010

tiba-tiba keguandahan itu muncul lagi...



tadi siang, pertanyaan itu kudengar lagi..
sudah sekian lama tidak ada yang mencoba menanyakannya
bahkan aku pun hampir melupakannya karena kesibukan yang begitu menggerus waktuku, pikiranku, dan fisikku tampa kenal ampun
Tapi tadi aku tersadar, hebat!! bahkan selama ini aku berhasil melupakan kegundahan itu
meskipun pertanyaan itu kembali mendesing dalam keheningan dan kedamaian ragaku
Jiwa yang beberapa hari terakhir penat karena tugas, kembali terhenyak akan hadirnya luka lama
ya pertanyaan itu, pertanyaan ttg siapakah calonku sekarang... Oh my God, why should I hear that question again?? Don't they know without asking?? Don't they know it's a sign of my ending life?? (lebay mode:on).
Terkadang manusia disibukkan oleh aturan kehidupan atau bisa dikatakan standar yang dibuat oleh kebanyakan orang mengenai bagaimana sebaiknya kehidupan seseorang. Kita tidak pernah bagaimana seseorang itu seharusnya hidup. Dan kita tidak pernah tahu perjalanan hidup seseorang hingga orang tersebut menjalani seluruh kehidupannya. Aku rasa tidak ada kata seharusnya dalam menjalani kehidupan. Karena ke"seharusnya"an itu adalah pandangan sempit beberapa gelintir manusia mengenai kehidupan beberapa gelintir manusia juga. Seharusnya itu hanya milik Sang Pencipta. Tidak bisakah kita menghargai adanya perbedaan?? tidak bisakah kita bersyukur atas semua perbedaan yang ada?? Ketika seseorang itu berbeda dengan kebanyakan orang bukan berarti dia tidak seperti yang seharusny, namun begitulah seharusnya dia hidup menurut Sang Khalik. Berbeda adalah karena kita melihat dari kesamaan yang ada. Namun tidakkah kita sadar bahwa kesamaan itu juga akan berbeda ketika dilihat dari perbedaan-perbedaan yang lain. Tidak ada keharusan mutlak dalam menjalani hidup kecuali keharusan yang telah diciptakan oleh Nya.

Sekali lagi bahwa kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain saja... namun lebih daripada itu untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta kita yang telah menjadikan kita ada. Kita adalah spesial, itulah mengapa kita diciptakan. Kita adalah berbeda itulah mengapa kita dilahirkan. Sembari menatap perbedaan, maka hargailah perbedaan itu sebagaimana mereka memberikan warna-warni kehidupan di dunia ini...

sekelumit kenyataan hidup


beberapa menit yang lalu, baru saja aku berbicara dengan seorang ibu, yang mengeluh tentang anak laki-lakinya. Ibu muda ini hampir menjadi single mother. Maksudku sedang dalam proses perceraian dan sudah lama pisah rumah dari suaminya. Sekarang dia harus kembali ke rumah ibunya dan bekerja banting tulang untuk anak-anaknya. Dia punya 3 anak, perempuan, laki-laki, dan perempuan lagi. Kebetulan aku memakai anak laki-lakinya sebagai subyek dalam tugas kuliahku. Awalnya aku tidak ingin terlalu dalam terlibat, ternyata justru sebaliknya, dibalik nilai-nilai akademis si anak laki-laki yang buruk, ternyata justru ada cerita menarik mengenai keluarga itu. Mungkin karena kedua orang tua yang menikah ketika sama-sama muda, menjadikan kehidupan ekonomi keluarga sedikit kurang stabil. Aku tidak banyak mengorek hal itu, tapi yang kutahu ibu ini mengatakan sang suami sering lepas tanggungjawab mengenai anak-anak mereka hingga si ibu harus banting tulang.

Seperti kebanyakan anak laki-laki, anak ini cenderung malas belajar, lebih suka bermain bola, berpetualang kesana kemari, dsb. Namun yang kusuka dari anak ini, dia sangat percaya diri dan ramah. Dia tidak malu-malu atau manja. Bahkan aku tidak pernah melihat dia tampak murung, padahal aku yakin pasti jauh di lubuk hatinya dia menyadari akan ketiadaan ayah dalam keluarganya, belum lagi sang ibu yang selalu bekerja hingga larut malam. Aku yakin dia merasakan perbedaan antara keluarganya dan keluarga teman-temannya. Tapi dia bercerita tentang itu, justru aku baru tahu kalo ayahnya tidak di rumah adalah dari ibunya.

Anak ini menurutku sebenarnya pandai. Bahkan si ibu guru sering bilang kalau dia rajin maju ke depan dengan inisiatif sendiri untuk mengerjakan soal. Namun entah kenapa hasil ulangannya selalu buruk. Belum lagi kebiasaannya yang sering bolos. Anak ini tipe anak yang suka sekali bergerak kesana kemari. Dia tidak bisa diam di kelas tanpa mengusili teman-temannya. Sehingga hasil belajarnya jadi tidak maksimal. Belajar di rumah juga sangat jarang dilakukan, bahkan saat UTS. Aku bisa maklum, karena keadaan rumah nenek yang dia tinggali memang sangat tidak kondusif sebagai tempat belajar. Kurang lebih ada 5 anak kecil dan 4 orang dewasa di rumah itu. Belum lagi tidak ada pengawasan dari sang ibu yang selalu bekerja siang malam. Dugaan sementara dari aku mungkin anak ini tipe anak yang gaya belajarnya lebih ke praktikal atau kinestetik. Dia akan bosan dengan rutinitas kelas yang hanya menuntut guru menjelaskan di depan dan mengerjakan tugas di bangku. Tidak ada yang salah dengan gaya belajar anak. Namun kadang-kadang sarana dan prasarana serta metode pendidikan saat ini tidak mendukung dengan beberapa gaya belajar anak. Misalnya anak dengan energi berlebihan seperti dia, atau sifatnya yang tidak bisa diam, mungkin akan lebih cocok dengan pengajaran yang lebih praktis. Misal dalam laboratorium atau pengenalan langsung ke alam, menggunakan alat peraga, dsb. Standar penilaian kepada tiap-tiap anak sebenarnya bisa berbeda-beda karena mereka juga memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Mungkin guru lah yang lebih tahu bagaimana proses pendidikan anak-anak didiknya. Namun sekali lagi guru tetap diatur oleh standar penilaian dan peraturan dari departemen terkait yang terkadang justru kurang mengapresiasi keberagaman pada anak-anak tersebut.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun tidakkah alangkah baiknya jika perubahan-perubahan yang terjadi di dunia pendidikan tidak hanya berputar pada menterinya saja, atau nama program-programnya saja, namun justru perubahan pada bagaimana sistem penilaian terhadap keberagaman potensi anak. Mungkin terlalu sulit untuk menampung semua potensi itu dan membuat penilaian sendiri-sendiri akan hal tersebut. Tetapi yang penting adanya usaha untuk merubah paradigma bahwa anak pintar adalah anak yang rajin mengerjakan soal, mendengarkan guru, tidak pernah bolos, sehingga anak akan selalu merasa dihargai dan termotivasi untuk memupuk potensinya ke arah yang positif.

menemani sepupu kecilku ke PAUD


Keadaan PAUD yang kudatangi tadi mungkin tidak berbeda dengan PAUD-PAUD yang lain. Khususnya PAUD-PAUD yang diadakan oleh swasembada RW setempat dan bertempat di balai RW. Sarana dan prasarananya sangat minim sekali, demikian halnya tenaga pengajarnya. Bahkan bisa jadi bahan untuk pengajaran juga sangat minimalis. Sebagaimana bahan untuk belajar mewarnai yang kulihattadi pagi. Tapi aku salut dengan ibu-ibu pengajarnya, mungkin gaji yang mereka tidak seberapa, tapi mereka mau bersusah payah menularkan ilmu untuk anak-anak itu. Meskipun yang sangat disayangkan banyak metode pengajaran atau paling tidak cara menghadapi anak yang aku rasa kurang pas untuk diterapkan tadi. Ibu-ibu pengantar atau para baby sitter juga terlalu banyak ikut campur di kelas. Bahkan ketika anak yang mereka antar sebenarnya sudah bisa dilepaskan, tetap saja mereka mendekati mereka serta membantu anak-anak itu mengerjakan tugas yang diberikan. Bahkan sebagian ibu-ibu itu menyuapi anak-anak mereka ketika waktu belajar (waktu makan sudah habis). Para pengajar sudah berulangkali mengingatkan, namun tetap saja berulang terus dan terus. Aku tidak habis pikir... sudah mahal-mahal mereka membayar untuk sekolah anak mereka, tapi tetap saja mereka tidak mempercayakannya pada sekolah atau pengajar. Mereka masih saja ikut campur dalam mengerjakan tugas. Sebenarnya siapa sih yang sekolah?? Apa mereka malu dengan ibu-ibu yang lain kalo anak mereka jelek hasil tugasnya?? ckckck.... Terkadang keinginan orang tua memang terlalu berlebihan, apalagi ketika anak masih kecil dan belum mampu menyampaikan keinginan mereka. Sebagaimana kita yang sudah dewasa ini, kebebasan tentu terus menjadi keinginan yang didambakan, apalgi anak-anak itu??? toh dalam kebebasan bukan berarti mereka tidak belajar kan?? Tuhan telah menciptakan manusia sedemikian lengkapnya, tentu agar memudahkan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan, demikian halnya anak-anak, tentu dengan pengalaman, mereka akan belajar menghadapi semua rintangan yang ada. Ketika mereka jatuh... itu sebuah pengalaman... ketika mereka merasa disakiti itu juga sebuah pembelajaran...dari sana mereka akan belajar bagaimana untuk tidak jatuh lagi dan tidak sakit lagi. Semakin anak miskin akan pengalaman, semakin sulit Ia menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan sebenarnya dan cenderung mudah menjadi rapuh ketika berhadapan dengan dunia yang sebenarnya ini.
Mungkin aku berkaca pada sesuatu yang kualami. Tapi aku tidak terlalu banyak tahu akan itu, karena mungkin aku belum menyadarinya. Namun yang kutahu bahwa aku sering merasa tidak mampu ketika cobaan itu datang.

Saturday, March 27, 2010

Alhamdulillah...

Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga bikin blog ketika sdh byk org punya blog, hehe... But it's oke. Slowly but sure, q coba untuk menuangkan bbrp hal yang selama ini ingin kusampaikan.