Sunday, March 28, 2010

sekelumit kenyataan hidup


beberapa menit yang lalu, baru saja aku berbicara dengan seorang ibu, yang mengeluh tentang anak laki-lakinya. Ibu muda ini hampir menjadi single mother. Maksudku sedang dalam proses perceraian dan sudah lama pisah rumah dari suaminya. Sekarang dia harus kembali ke rumah ibunya dan bekerja banting tulang untuk anak-anaknya. Dia punya 3 anak, perempuan, laki-laki, dan perempuan lagi. Kebetulan aku memakai anak laki-lakinya sebagai subyek dalam tugas kuliahku. Awalnya aku tidak ingin terlalu dalam terlibat, ternyata justru sebaliknya, dibalik nilai-nilai akademis si anak laki-laki yang buruk, ternyata justru ada cerita menarik mengenai keluarga itu. Mungkin karena kedua orang tua yang menikah ketika sama-sama muda, menjadikan kehidupan ekonomi keluarga sedikit kurang stabil. Aku tidak banyak mengorek hal itu, tapi yang kutahu ibu ini mengatakan sang suami sering lepas tanggungjawab mengenai anak-anak mereka hingga si ibu harus banting tulang.

Seperti kebanyakan anak laki-laki, anak ini cenderung malas belajar, lebih suka bermain bola, berpetualang kesana kemari, dsb. Namun yang kusuka dari anak ini, dia sangat percaya diri dan ramah. Dia tidak malu-malu atau manja. Bahkan aku tidak pernah melihat dia tampak murung, padahal aku yakin pasti jauh di lubuk hatinya dia menyadari akan ketiadaan ayah dalam keluarganya, belum lagi sang ibu yang selalu bekerja hingga larut malam. Aku yakin dia merasakan perbedaan antara keluarganya dan keluarga teman-temannya. Tapi dia bercerita tentang itu, justru aku baru tahu kalo ayahnya tidak di rumah adalah dari ibunya.

Anak ini menurutku sebenarnya pandai. Bahkan si ibu guru sering bilang kalau dia rajin maju ke depan dengan inisiatif sendiri untuk mengerjakan soal. Namun entah kenapa hasil ulangannya selalu buruk. Belum lagi kebiasaannya yang sering bolos. Anak ini tipe anak yang suka sekali bergerak kesana kemari. Dia tidak bisa diam di kelas tanpa mengusili teman-temannya. Sehingga hasil belajarnya jadi tidak maksimal. Belajar di rumah juga sangat jarang dilakukan, bahkan saat UTS. Aku bisa maklum, karena keadaan rumah nenek yang dia tinggali memang sangat tidak kondusif sebagai tempat belajar. Kurang lebih ada 5 anak kecil dan 4 orang dewasa di rumah itu. Belum lagi tidak ada pengawasan dari sang ibu yang selalu bekerja siang malam. Dugaan sementara dari aku mungkin anak ini tipe anak yang gaya belajarnya lebih ke praktikal atau kinestetik. Dia akan bosan dengan rutinitas kelas yang hanya menuntut guru menjelaskan di depan dan mengerjakan tugas di bangku. Tidak ada yang salah dengan gaya belajar anak. Namun kadang-kadang sarana dan prasarana serta metode pendidikan saat ini tidak mendukung dengan beberapa gaya belajar anak. Misalnya anak dengan energi berlebihan seperti dia, atau sifatnya yang tidak bisa diam, mungkin akan lebih cocok dengan pengajaran yang lebih praktis. Misal dalam laboratorium atau pengenalan langsung ke alam, menggunakan alat peraga, dsb. Standar penilaian kepada tiap-tiap anak sebenarnya bisa berbeda-beda karena mereka juga memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Mungkin guru lah yang lebih tahu bagaimana proses pendidikan anak-anak didiknya. Namun sekali lagi guru tetap diatur oleh standar penilaian dan peraturan dari departemen terkait yang terkadang justru kurang mengapresiasi keberagaman pada anak-anak tersebut.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun tidakkah alangkah baiknya jika perubahan-perubahan yang terjadi di dunia pendidikan tidak hanya berputar pada menterinya saja, atau nama program-programnya saja, namun justru perubahan pada bagaimana sistem penilaian terhadap keberagaman potensi anak. Mungkin terlalu sulit untuk menampung semua potensi itu dan membuat penilaian sendiri-sendiri akan hal tersebut. Tetapi yang penting adanya usaha untuk merubah paradigma bahwa anak pintar adalah anak yang rajin mengerjakan soal, mendengarkan guru, tidak pernah bolos, sehingga anak akan selalu merasa dihargai dan termotivasi untuk memupuk potensinya ke arah yang positif.

No comments:

Post a Comment